Perkembangan Musik Rock ‘n Roll di Indonesia Masa Orde Lama

Posted: Maret 2, 2012 in History, musik
Tag:, , , , ,


Pada pertengahan dekade 1950-an berkembang jenis musik rock ’n roll yang dipopulerkan oleh Bill Haley and The Comet dan Elvis Presley di Amerika. Melalui medium kepingan piringan hitam, radio, dan film, musik rock ’n roll masuk ke Indonesia dan menjadi populer di kalangan anak-anak muda golongan menengah yang tinggal di kota besar yang pada waktu itu jumlahnya sangat terbatas. Dalam perkembangannya, pada dekade 1960-an pengaruh musik rock ’n roll diperkuat dengan masuknya grup-grup musik asal Inggris seperti Rolling Stone, The Beatles, dan sebagainya yang kemudian dikenal sebagai gerakan musik British Invasion.


Pada awal dekade 1960-an, anak-anak yang tinggal di kota besar yang mampu untuk membeli peralatan musik mulai membentuk grup musik dan menyanyikan lagu-lagu dari grup musik yang menjadi panutannya yang mereka dengar dari kepingan piringan hitam dan radio seperti Everly Brothers atau pun irama jenis baru (rock ’n roll) dari The Beatles. Los Suita, Eka Djaya Combo, Dara Puspita dan Koes Bersaudara adalah beberapa grup musik yang melakukan hal ini. Menjelang pertengahan dekade 1960-an grup-grup musik itu mulai menciptakan dan menyanyikan lagu sendiri yang jelas terpengaruh oleh lagu-lagu asing yang sering mereka dengarkan. Pertunjukan musik langsung pun banyak digelar tetapi tidak terlalu besar volume intensitasnya, karena hanya diselenggarakan pada suatu tempat tertentu atau ketika para tetangga atau siapa saja sedang ada hajatan atau semacamnya.

Seperti perkembangan dalam seni pertunjukan lainnya (teater dan tari) yang sangat dipengaruhi oleh faktor non-seni yang terdiri atas faktor politik, sosial, dan ekonomi, perkembangan musik rock di Indonesia tidak terlepas dari beberapa faktor tersebut. Perkembangannya sejalan dengan perkembangan situasi politik, sosial, dan ekonomi tertentu yang terjadi di Indonesia. Ketiga faktor inilah yang sangat menentukan hadirnya sebuah genre atau bahkan bentuk seni pertunjukan dalam kehidupan masyarakat. Ketiga faktor tersebut kadang-kadang faktor ekonomi yang dominan menentukan perubahan, faktor politik yang menonjol, dan terkadang faktor sosial atau bahkan kerap terjadi perpaduan antara dua atau ketiga faktor tersebut

Pada awalnya situasi dan kondisi Indonesia kondusif bagi perkembangan musik rock, tetapi kondisi itu berubah menjadi non-kondusif pada masa Demokrasi Terpimpin. Nada keberatan terhadap musik rock ini dilihat secara politis melalui kepentingan nasionalisme; Musik rock dikatakan sebagai bagian dari “Imperialisme Kebudayaan”.

Pernyataan imperialisme kebudayaan ini dikemukakan oleh Bung Karno dalam pidato ”Manipol Usdek” pada tanggal 17 Agustus 1959, yang kemudian diputuskan oleh Dewan Pertimbangan Agung pada bulan September 1959 sebagai Garis-garis Besar Haluan Negara. Permusuhan terhadap musik rock di Indonesia dimanipulasi pula oleh kepentingan PKI melalui Lembaga Kesenian Rakyat (LEKRA), namun demikian lagu-lagu Barat masih bebas untuk dimainkan hingga sampai tahun 1963 pemerintah mengeluarkan Penetapan Presiden PP No. 11/1963 tentang larangan musik “ngak ngik ngok”.

Musik rock menghadapi persoalan nyata akibat dikeluarkannya Penetapan Presiden tersebut. Musik rock diberangus dan dianggap musik yang merusak budaya bangsa. Konsekuensi logis dari Penetapan Presiden tersebut, maka piringan-piringan hitam milik grup musik The Beatles, The Rolling Stone, The Shadows, dan lain-lainnya serentak dimusnahkan secara massal dan diberlakukan pelarangan impor bagi rekaman-rekaman musik dari Barat. Siaran radio yang menyiarkan musik-musik Barat juga dilarang, termasuk RRI. Pemuda berambut gondrong yang berpakaian dengan memakai model Barat tidak luput menjadi korban razia para aparat berwenang. Koes Bersaudara yang mengambil beat keras dalam landasan musik yang mereka ciptakan ikut terkena paranoisme Orde Lama; mereka sempat beberapa saat mendekam di balik terali besi penjara Glodok. Tidak hanya Koes bersaudara, grup musik lainnya juga mendapat peringatan untuk tidak membawakan lagu-lagu yang berirama rock ’n roll, grup musik itu di antaranya adalah Los Suita. Pihak Kejaksaan Tinggi Jakarta mengeluarkan peringatan bahwa grup musik ini akan dibubarkan jika masih menyanyikan lagu-lagu dari penyanyi Elvis Presley. Irama Abadi, grup musik yang pernah diperkuat oleh Abadi Soesman sempat juga ditegur oleh aparat Kodim ketika mereka pentas membawakan lagu-lagu dari The Beatles.

Komentar
  1. indraisme mengatakan:

    Seperti halnya alm. H. Benyamin S. yang menyamarkan lagu-lagu blues yang dibawakannya dengan lirik-lirik jenaka dan berbau betawi karena sempat berkembangnya sentimen anti barat. Lagu kompor mleduk sangat kental nuansa bluesnya. Maaf, sedikit tidak nyambung, tapi toh blues masih sepupu sama rock n’ roll. He2, peace… :-)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s