Negara-Negara Bagian di Indonesia :Republik Indonesia Serikat

Posted: Maret 11, 2012 in History
Tag:, , , ,

Pemerintahan di Indonesia mengalami kekosongan pasca Perang Dunia II. Hal ini disebabkan karena kekalahan Jepang dari pihak sekutu. Karena itu juga terjadi pemindahan kekuasaan dari Jepang kepada sekutu atas wilayah-wilayah yang telah diduduki oleh Jepang. Sekutu mulai melakukan pelucutan senjata terhadap tentara Jepang yang berada di Indonesia. Akan tetapi dalam pelucutan tersebut pihak Belanda juga ikut datang untuk kembali menguasai Indonesia. Pemerintahan Indonesia yang masih sangat muda mencoba mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Perlawanan dalam kekuatan militer dengan senjata hasil rampasan dari tentara Jepang serta melalui jalan perundingan.

Akan tetapi perjuangan yang dilakukan lebih banyak melalui perundingan dan hasil dari perundingan itu Indonesia diakui secara de facto dan de jure.

Proses Pembentukan Negara Bagian.

Perundingan awal RI dan Belanda pada tanggal 10 Februari 1946 di Jakarta, Perjanjian Linggarjati didahului oleh perundingan di Hoge Voluwe, Belanda dari tanggal 14-24 April 1946, berdasarkan suatu rancangan yang disusun oleh Sjahrir, Perdana Mentri dalam Kabinet Sjahrir II.

Sebelumnya tanggal 10 Februari 1946, sewaktu Sjahrir menjabat Perdana Mentri dalam Kabinet Sjahrir I, Van Mook telah menyampaikan kepada Sjahrir rencana Belanda yang berisi pembentukan negara persemakmuran Indonesia, yang terdiri atas kesatuan kesatuan yang mempunyai otonomi dari berbagai tingkat negara persemakmuran menjadi bagian dari Kerajaan Belanda. Bentuk politik ini hanya berlaku untuk waktu terbatas, setelah itu peserta dalam kerajaan dapat menentukan apakah hubungannya akan dilanjutkan berdasarkan kerjasama  yang bersifat sukarela.

Sementara itu pemerintah Inggris mengangkat seseorang Diplomat tinggi Sir Archibald Clark Kerr (yang kemudian diberi gelar Lord Inverchapel), untuk bertindak sebagai ketua dalam perundingan Indonesia – Belanda.

Segera setelah terbentuknya Kabinet Sjahrir II, Sjahrir membuat usulan-usulan tandingan. Yang penting dalam usul itu ialah bahwa RI diakui sebagai negara berdaulat yang meliputi daerah bekas Hindia Belanda, dan antara negeri Belanda dan RI dibentuk Federasi. Jelaslah bahwa usul ini bertentangan dengan usul Van Mook. Setelah diadakan perundingan antara Van Mook dan Sjahrir dicapai kesepakatan :

(a) Rancangan persetujuan diberikan bentuk sebagai Perjanjian Indonesia Internasional dengan “Preambule”.

(b) Pemerintah Belanda mengakui kekuasaan de Facto Republik atas Pulau Jawa dan Sumatra.

Pada rapat  Pleno tanggal 30 Maret 1946 Van Mook menerangkan  bahwa rancangannya merupakan usahanya pribadi tanpa diberi kekuasaan oleh pemerintahnya . Maka diputuskan bahwa Van Mook akan pergi ke Belanda, dan kabinet mengirim satu delegasi ke Belanda yang terdiri atas Soewandi, Soedarsono dan Pringgodigdo. Perundingan diadakan tanggal 14-24 April 1946. Pada hari pertama perundingan sudah mencapai deadlock, karena bentuk perjanjian Internasional tidak dapat diterima oleh kabinet Belanda. Perjanjian Internasional akan berarti bahwa RI mempunyai kedudukan yang sama dengan Belanda didunia Internasional. Padahal Belanda tetap menganggap dirinya sebagai negara pemegang kedaulatan atas Indonesia. Perundingan di Hoge Voluwe merupakan kegagalan, akan tetapi pengalaman yang diperoleh dari perundingan Hoge Voluwe ternyata berguna dalam perjanjian Linggarjati

Seterusnya perundingan gencatan senjata antara RI dengan pihak Sekutu dan Belanda di Jakarta pada tanggal 20 September 1946. RI diwakili oleh Jenderal Mayor Soedibjo, Komodor Udara Suryadarma, Kolonel Simbolon dan Letnal Kolonel Abdullah Kartawirana. Dari pihak Sekutu diwakili oleh Mayor Jenderal J.F.R. Forman dan Brigadir Jenderal I.C.A. Lauder. Pihak Belanda diwakili oleh Mayor Jenderal D.H. Buurman van Vreeden.

Kemudian perundingan Linggajati yang hasilnya ditandatangani pada tanggal 25 Maret 1947 di Istana Rijswijk, sekarang Istana Merdeka, Jakarta. Dimana perjanjian Linggajati ini dari pihak RI ditandatangani oleh Sutan Sjahrir, Mr. Moh. Roem, Mr. Soesanto Tirtoprodjo, dan A. K. Gani, sedangkan dari pihak Belanda ditandatangani oleh Prof. Schermerhorn, Dr. van Mook, dan van Poll. Dimana isi perjanjian Linggajati itu:

  1. 1.      Belanda mengakui secara de facto RI dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatra, Jawa, dan Madura.
  2. 2.      RI dan Belanda akan bekerja sama dalam membentuk Negara Indonesia Serikat, dengan nama RIS, yang salah satu negara bagiannya adalah RI.
  3. 3.      RIS dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia-Belanda dengan Ratu Belanda selaku ketuanya.

Dilanjutkan dengan Perundingan Renville di kapal pengangkut pasukan Angkatan Laut Amerika USS Renville yang dimulai pada tanggal 8 Desember 1947. Pada tanggal 17 Januari 1948 hasil perjanjian Renville ditandatangani oleh Perdana Mentri Mr. Amir Sjarifuddin dari Kabinet Amir Sjarifuddin, yang disaksikan oleh H. A. Salim, Dr. Leimena, Mr. Ali Sastroamidjojo, dimana sebagian isinya penghentian tembak menembak disepanjang “Garis van Mook“. Penghentian tembak menembak yang diikuti dengan perletakan senjata dan pembentukan daerah-daerah kosong militer. Mengakui secara de facto kekuasaan RI sekitar daerah Yogyakarta.

Begitu juga dengan perundingan antara Republik Indonesia (RI) dan Komisi Tiga Negara (KTN,  bentukan Dewan Keamanan PBB yang anggotanya Belgia, Australia dan Amerika Serikat) pada tanggal 13 Januari 1948 di Kaliurang. Dimana isi dari perundingan Kaliurang ini dimasukkan kedalam isi perjanjian Renville.

Hasil dari perjanjian Renville secara hukum pada tanggal 17 Desember 1949 Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) pengasingan di Aceh secara de facto dan de jure sudah tidak ada, karena pada tanggal 14 Desember 1949 Piagam Konstitusi RIS di Pegangsaan Timur 56, Jakarta, ditandatangani oleh para utusan dari 16 Negara/Daerah bagian RIS, yaitu Mr. Susanto Tirtoprodjo (Negara Republik Indonesia menurut perjanjian Renville), Sultan Hamid II (Daerah Istimewa Kalimantan Barat), Ide Anak Agoeng Gde Agoeng (Negara Indonesia Timur), R.A.A. Tjakraningrat (Negara Madura), Mohammad Hanafiah (Daerah Banjar), Mohammad Jusuf Rasidi (Bangka), K.A. Mohammad Jusuf (Belitung), Muhran bin Haji Ali (Dayak Besar), Dr. R.V. Sudjito (Jawa Tengah), Raden Soedarmo (Negara Jawa Timur), M. Jamani (Kalimantan Tenggara), A.P. Sosronegoro (Kalimantan Timur), Mr. Djumhana Wiriatmadja (Negara Pasundan), Radja Mohammad (Riau), Abdul Malik (Negara Sumatra Selatan), dan Radja Kaliamsyah Sinaga (Negara Sumatra Timur).

Seterusnya perundingan Roem Royen. Pihak RI diwakili oleh delegasi yang dipimpin oleh Mr. Moh. Roem sedangkan pihak Belanda diketuai oleh Dr. Van Royen. Dimana perjanjian itu ditandatangani pada tanggal 7 Mei 1949 di Jakarta yang sebagian isinya adalah turut serta dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag, dengan maksud untuk mempercepat penyerahan kedaulatan yang sungguh dan lengkap kepada Negara Indonesia Serikat dengan tidak bersyarat. Dimana Belanda menyetujui adanya Republik Indonesia sebagai bagian dari Negara Indonesia Serikat.

Kemudian perundingan dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) pada tanggal 23 Agustus 1949  di Ridderzaal, Den Haag, Belanda, yang hasilnya ditandatangani pada tanggal 2 November 1949 telah disepakati, Bahwa Belanda akan menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat (RIS) pada akhir bulan Desember 1949;Bahwa mengenai Irian barat penyelesaiannya ditunda selama satu tahun; Bahwa pembubaran KNIL dan pemasukan bekas anggota KNIL ke dalam Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS), adanya satu misi militer Belanda di Indonesia, untuk membantu melatih APRIS dan pemulangan anggota KL dan KM ke Negeri Belanda.

Dalam perjalanan Bangsa Indonesia, Republik Indonesia sempat mengalami perubahan bentuk negara, yaitu dengan lahirnya Republik Indonesia Serikat.

Republik Indonesia Serikat, disingkat RIS, adalah suatu negara federasi yang berdiri 27 Desember 1949 sebagai hasil kesepakatan tiga pihak dalam Konferensi Meja Bundar : Republik Indonesia, Bijeenkomst voor Federaal Overleg ( BFO ) dan Belanda. Kesepakatan ini disaksikan juga oleh United Nations Commision for Indonesia ( UNCI ) sebagai perwakilan Perserikatan Bangsa – Bangsa ( PBB ).

Republik Indonesia Serikat terdiri beberapa negara bagian, yaitu:

  1. Republik Indonesia yang dipimpin oleh Mr. Susanto Tirtoprojo
  2. Negara Indonesia Timur yang terbentang dari wilayah Sulawesi, Sunda Kecil ( Bali dan Nusa Tenggara ) dan Kepulauan Maluku dengan Ibu Kotanya Singaraja, dipimpin oleh Ida Anak Agoeng Gede Agoeng.
  3. Negara Pasundan yang wilayahnya meliputi Sebagian Pulau Jawa sebelah Barat atau yang lebih dikenal sebagai Jawa Barat dengan ibukotanya Bandung, dipimpin oleh Mr. Djumhana Wiriatmadja.
  4. Negara Jawa Timur dengan wilayahnya adalah Pulau Jawa Bagian Timur, dengan ibukotanya Surabaya, dengan pimpinan Raden Soedarmo.
  5. Negara Madura dengan wilayahnya mencakup kepulauan Madura, dipimpin oleh R.A.A. Tjakraningrat.
  6. Negara Sumatera Timur yang dipimpin oleh Radja Kaliamsyah Sinaga.
  7. Negara Sumatera Selatan yang dipimpin oleh Abdul Malik.

Selain itu, ada juga negara-negara yang berdiri sendiri dan tak tergabung dalam federasi, yaitu:

  1. Jawa Tengah dipimpin oleh DR. RV Sidjito
  2. Kalimantan Barat pimpinannya adalah Sultan Hamid II
  3. Dayak Besar dipimpin oleh Muhran Bin HajiAli
  4. Daerah Banjar dipimpin oleh Muhammad Hanafiah
  5. Kalimantan Tenggara dipimpin oleh M. Jamani
  6. Kalimantan Timur dipimpin oleh A.P Sosronegoro
  7. Bangka dengan pimpinan Muhammad Jusuf Rasidi
  8. Belitung dipimpin oleh K.A. Muhammad Jusuf
  9. Riau dipimpin oleh Radja Mohammad

Namun usia Negara Republik Indonesia Serikat tidak panjang karena pada 17 Agustus 1950, Negara Republik Indonesia Serikat dibubarkan.

Republik Indonesia Serikat memiliki konstitusi yaitu Konstitusi RIS. Piagam Konstitusi RIS ditandatangani oleh para Pimpinan Negara/Daerah dari 16 Negara/Daerah Bagian RIS.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s