ISLAM DAN PLURALISME NURCHOLISH MADJID

ISLAM DAN PLURALISME ALA NURCHOLISH MADJID

Dalam artikel ini membahas tentang konsep pluralisme yang dibawa oleh Nurcholish Madjid. Nurckolish Madjid yang merupakan seorang cendikiawan muslim yang cukup disegani karena pemikirannya yang kritis dalam agama sangat bertentangan dengan ajaran yang telah ada dalam masyarakat. Nurcholish madjid atau yang dikemal ndengan Cak Nur sangatlah menjujung konsep pluralisme terutama dalam ajaran agama Islam. Pluralisme yang berarti kebebasan sangatlah penting untuk segera diterapkan. Karena dia merasa bahwa ajaran Islam yang berada di Indonesia sangatlah tradisional dan tidak moderen.

 

Dasar Pendidikan Agama Cak Nur

Sejak muda Cak Nur sudah aktif dalam kegiatan keagamaan. Cak Nur telah memasuki banyak pesantren umtuk mendalami ajaran agama Islam. Akan tetapi dia merasa bahwa konsep ajaran pesantren di Indonesia terlalu tradisional yang membuatnya tidak dapat mengembangkan pemikirannya. Pada saat di mondok di Pesantren Gontor barulah dia dapat mengembangkan pemikirannya dalam Islam. Karena menurut dia ajaran yang dilakukan di pesantren gontor sangatlah maju dan modern. Di Gontor pemikiran tentang Marx, Hegel tidak dianggap tabu tapi menjadi dasar pertimbangan santrinya dalam mengembangkan pemikiran baru. Maka Cak Nur menganggap bahwa pesantren gontor merupakan pesantren yang modern. Setelah lulus dari Gontor Cak Nur ikut aktif dalam HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) di IAIN Syarif Hidayatullah. Di sana perkembangan pemikirannya tentang Islam mulai dimunculkan kepada publik. Cak Nur menulis sebuah buku kecil yang berjudul Nilai-Nilai Dasar Perjuangan yang menjadi buku dasar keislaman HMI hingga sekarang.

Alasan Cak Nur membuat buku tersebut karena dia merasa iri terhadap anak-anak muda komunis di Indonesia yang memiliki buku pedoman dalam pergerakan mereka. Anak-anak komunis di Indonesia banyak menggunakan buku pemikiran Marx yang bernama Pustaka Kecil Marxis.

Penerapan Konsep Modernitas Islam

Selain itu Cak Nur juga merasa bahwa pemikiran kaum muda muslim di Indonesia haruslah segera berubah kearah modernitas. Maka Cak Nur memunculkan konsep Islam yang modern di Indonesia. Akan tetapi konsep tersebut banyak di tentang oleh para ulama terutama dari para Kyai sepuh yang merasa bahwa konsep yang di perjuangkan oleh Cak Nur sangat tidak relevan dengan ajaran Islam di Indonesia. Hal tersebut tidak membuat Cak Nur patah semangat kerena dia merasa bahwa Modenitas itu harus segera dilakukan. Cak Nur sering menjelaskan genius kemodernan Islam. Konsep sosial-politik Islam disebut Cak Nur sangat modern itu, justru disebabkan oleh sifat universal dan kosmopolitannya ajaran islam. Sumber universal islam dapat dilihat dari perkataan generik Al-Islam itu sendiri, yang berarti sikap pasrah kepada Tuhan. Dengan pengertian tersebut, semua agama yang benar pastilah bersifat Al-islam. Hingga Al-Islam pun, menjadi konsep kesatuan kenabian, kesatuan kemanusiaan, yang keduannya merupakan kelanjutan dari konsep ke Maha Esaan Tuhan. Semua konsepsi kesatuan itulah yang menjadikan Islam, bersifat kosmopolit, sejalan dengan hakikat kemanusiaan yang bersifat illahi.

Cak Nur selalu menunjukan bahwa keadaaan umat Islam sebagai penengah merupakan keadaaan yang pernah dibuktikan dalam sejarah peradaban Islam, yang sangat menghargai minoritas non-muslim( yahudi-nasrani). Sikap inklusivisme ini ada karena Al-Quran mengajarkan paham kemajemukan beragama. Sikap inkluvisme dan pluralisme inilah yang telah menjadi prinsip pada masa jaya Islam, dan telah mendasari kebijaksanaan politik kebebasan beragama. Dia beranggapan karena cita-cita Islam yang fitrah dan selalu merupakan pesan itu sejalan dengan cita-cita kemanusiaan.

 

Konsep Islam Neo-Sufisme

Cak Nur memunculkan konsep neo-sufisme, yang menggambarkan tentang persoalan keagamaan dalam arti ruhani. Neo-sufisme sendiri artinay secara literal adalah tasauf baru, yaitu suatu jenis tasauf yang diterapkan dalam konteks menjawab persoalan-persoalan di masa modern sekarang ini. Yang menarik bahwa dari pemahamannya mengenai wahyu itu adalah apa yang disebutnya sebagai pesan keagamaan. Dalam berbicara tentang masalah apa pun tentang agama apalagi umtuk soal keruhanian, Cak Nur selalu bertolak dari yang disebut pesan-pesan keagamaan ini, atau istilahnya sendiri pesan dasar Islam, yang pokoknya meliputi perjanjian denagn Allah dan kesadaran akan kehadiranNya dalam hidup. Menurut Cak Nur, dalam garis besarnya Al-Quran itu adalah pesan keagamaan yang harus selalu dirujuk dalam kehidupan keagamaan seorang muslim.

Dalam pembicaraan sehari-hari orang Islam, menurut Cak Nur, takwa sering diartikan atau diterjemahkan sebagai sikap takut kepada Tuhan atau sikap menjaga diri dari perbuatan jahat atau sikap patuh memenuhi segala kewajiban serta menjauhi larangan tuhan. Menurut Cak Nur, dorongan kepada perbuatan baik itu sudah merupakan bakat primodial manusia, bersumber sari nurani yang dalam bahasa Arabnya, bersifat nur atau terang karena adanya fitrah pada manusia. Cak Nur menekankan bahwa dalam semangat kesadaran taqwa tersebut, hidup bermoral bukanlah merupakan masalah kesediaan tapi keharusan bahkan menurutnay adalah sesuatu yang menandai adanya taqwa itu dalam batin seorang muslim dan seorang beragama pada umumnya. Kesamaan agama disini bukan kesamaan dalam arti formal dalam aturan-aturan positif yang sering diaccu sebagai istilah agama islam Syariah, bahkan tidak juga dalam pokok-pokok keyakinan tertentu. Segi kebenarnya yang didukung dan dilindungi Al-Quran adalah kebenaran asasi yang menjadi inti senua agama Allah.

Cak Nur menyebut kebenaran primodial ini sebagai kebenaran yang perential, yang seperti dikatakan Al-Quran telah diajarkan kepada setiap nabi dan rasul. Segi kebenatan asasi yang didukung dan dilindungi Al-Quran tersebut adalah dalam bahasa teologi islam paham kesatuan. Yaitu tawhid yang akan membawa siapa saja yang mempercayainya kepada suatu sikap pasrah kepada Tuhan sebagai bentuk ketundukan. Setiap orang Islam par excellence diperintahkan tunduk pada Tuhan. Apa yang digambarkan Cak Nur sebagai proses keberimanan yang benar, dalam istilahnya sendiri, hamper kesimpulan bahwa ateisme adalah proses menuju iman yang benar.  Namun karena persoalan sebenarnya bukanlah persoalan kepercayaan kepada tuahn-tuhan palsu yang kelewat banyak, maka tema-tema dalam Al-Quran yang paling dominan ialah penegasan bahwa Tuhan adalah Yang Maha Esa, dan bahwa manusia harus membebaskan diri dari kepercayaan dan praktik memperserikatkan Tuhan. Kesimpulan yang paling penting dalam pandangan Cak Nur mengenai ateisme ini adalah bahwa persoalan ateisme adalah persoalan manusia yang hendak mengandalkan dirinya sendiri dalam hal ini akal dan ilmu pengetahuan untuk memahami Tuhan. Dari sudut pandang Islam, menurut cak Nur, percobaan untuk memahami Tuhan itu pasti gagal, dan wajar sekali jika mereka berkesimpulan bahwa Tuhan tidak ada. Kegagalan itu bermula dari keterbatasan akal manusia, khususnya akal modern yang hamper membatasi diri hanya kepada hal-hal empiris secara materialistic.

Menurut Cak Nur, ilmu pengetahuan jika dilepaskan dari paham ilmu pengetahuan-isme, sebagai ideolagi tertutup akan membawa perbaikan dan kebaikan bagi hidup manusia. Ilmu yang lebih terbuka ini dapat membawa kepada kesadaran keruhanian yang lebih mendalam dan kuat, apalagi jika ilmu pengetahuan ini memang bertitik tolak dari kosmologi dan kosmogoni yang berlandaskan keimanan yang benar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s