Dialektika Pembangunan: Respons Orang Asli Terhadap Modal Pembangunan di Cordillera Tengah, Luzon Utara, Filipina

Studi mengenai pengalaman pembangunan dari sebuah komunitas suku asli di Propinsi Abra yang terpencil di lereng tengah Luzon Utara, Filipina ini mengenai dialektis untuk mendokumentasikan dan menganalisis reaksi-reaksii mereka yang tiba-tiba dari proyek-proyek pembangunan yang intensif yang dimulai pada awal tahun 1970-an.

Peradigma teknokratis untuk perencanaan Filipina

Pengalaman suku asli dengan modal pembangunan di Abra terlebih dulu harus diletakkan dalam paradigma ekonomi dan pembangunan yang berlaku di Filipina pada tahun 1970-an, karena hanya demikian berbagai dimensi dialektika yang terjadi dapat dipahami sepenuhnya. Teknokrasi Filipina, yang didukung oleh kepemimpinan politik yang otoriter dari Presiden Ferdinand E. Marcos yang memerintah Filipina dari tahun 1965-1986, mempersepsikan pembangunan sebagai sebuah proses garis lurus yang sederhana, maju dari keadaan keterbelakangan kepada modernisasi melalui peranan modal yang bersifat katalis.

Dalam ketentuan-ketentuan mengenai pembangunan regional Filipina seperti diikhtisarkan dalam Five-Year Plan, seluruh efek dari paradigma yang berwawasan pertumbuhan dan berbasiskan industri terhadap perencanaan pembangunan dinyatakan dalam istilah-istilah yang biasa dipakai oleh para perencanaan fisik di tahun 1960-an dan 1970-an. Model pembangunan daerah yang secara eksplisit dinyatakan dalam rencana pembangunan Filipina di tahun 1970-an mewujudkan model pusat pinggiran yang ada dalam daerah-daerah pusat akan dimanfaatkan untuk memulai pembangunan dalam hubungan saling bergantungan dengan daerah-daerah pinggiran mereka, sebagai langkah pertama untuk memulai suatu proses pembangunan yang kumulatif di daerah-daerah yang terbelakang dan tak berkembang di sekitar daerah pusat. Strategi ini, singkatnya, berusaha menarik ke daerah-daerah pinggiran, investasi-investasi infrastruktur, industri dan pertanian yang padat modal, baik swasta maupun negara, sehingga modernisasi dan pembangunan akan merembes ke daerah sebelah luar dan dengan cara demikian, mengahasilkan pemerintahan daerah yang lebih besar, dan kemajuan orang-orang terbelakang yang tinggal di sana.

Propinsi Abra: Tanah dan Rakyat

Propinsi Abra terletak di lereng Barat Cordillera Tengah, Luzon. Luas tanahnya yang mendekati 4000 kilometer persegi menyebabkannya lebih luas bila dibandingkan dengan dua propinsi dataran rendah tetangganya yang berpenduduk lebih padat, yaitu Ilocos Sur dan Ilocos Norte. Seluruh propinsi ini dialiri oleh satu sistem sungai utama, sungai Abra. Di sepanjang daerah alirannya yang tidak datar dan bergunung-gunung, kecuali di bagian baratnya, terletak batas-batas propinsi ini.

Sumberdaya alam dominan di lereng sebelah atas Cordillera Tengah adalah hutan, terutama hujan pinus Benguet (Pinus insularis), dan hutan-hutan ini berfungsi melindungi daerah aliran sungai-sungai yang mengaliri dataran-dataran rendah diseluruh Luzon Utara. Hutan-hutan pinus ini telah memperoleh perhatian yang semakin banyak dari perusahaan-perusahaan kayu, bahkan ketika komunitas-komunitas, orang asli yang tinggal di hutan-hutan ini menjadi sadar juga akan betapa pentingnya pohon-pohon ini bagi penghidupan mereka, dan sebagai proteksi bila terjadi erosi serta proses-proses lam yang merusak lainnya di daerah pegunungan.

Dataran rendah Abra dihuni oleh orang-orang Ilokano, kelompok bahasa dialek yang dominan yang mendiami seluruh dataran rendah Luzon Utara. Sensus tahun 1975 mengklaim bahwa orang-orang Ilokano yang dilaporkan merupakan komunitas orang asli Itneg atau orang Tinggian. Orang-orang Tinggian adalah orang suku asli di Abra, dan meliputi suku-suku yang menhuni lereng barat Cordillera Tengah yang, bila dihitung bersama-sama dengan komunitas-komunitas suku yang lain di Cordillera, lebih dikenal dengan sebutan orang-orang Igorot. Ada 11 kelompok bahasa etnis Tinggian yang berbeda di Abra, masing-masing dengan dialek serta praktik budaya mereka sendiri yang mencerminkan pengaruh komunitas-komunitas Igorot, masing-masing dalam propinsi-propinsi tetangga seperti Kalinga-Apayao dan propinsi Gunung. Orang-orang Tinggian dewasa ini hidup di daerah dataran rendah maupun Pegunungan Abra. Orang-orang Tinggian dataran rendah adalah petani padi basah, sedangkan orang-orang Tinggian dataran tinggi, yang tinggal maupun bekerja di lembah-lembah pedalaman di daerah atas aliran sungai Abra adalah sebagai petani padi kering dan padi basah berjenjang-jenjang, yang juga bekerja dalam pertanian berpindah-pindah, perhiasan dari ikan, dan pemeliharaan ternak di padang-padang rumput milik bersama di gunung-gunung.

Pada masa lalu, orang-orang Tinggian adalah penganut animisme, yang oleh tetangga mereka yang Ilokano yang telah diKristenkan dianggap sebagai orang-orang yang tak beradab.

Cellophil: Industri Pertumbuhan Datang Ke Abra

Dalam bulan-bulan sesudah pengumuman undang-undang darurat perang di seluruh Filipina di bulan September 1972, mobil-mobil jip yang diberi nama Cellophil dan Herdis tiba di ibukota Abra, Bangued  dan datang dari pangkalan ini mereka bergerak memasuki Cordillera untuk mensurvei pohon-pohon di dataran tinggi Tinggian di Abra. Karena dianggap pengacau oleh orang-orang Tinggian, meereka lalu pergi dan tidak banyak orang memikirkannya lebih lanjut.

Konsesi-konsesi hutan ini dimaksudkan untuk menyediakan bahan-bahan mentah bagi sebuah pabrik pulp berkapasitas 70000 meterik ton per tahun  yang akan dibangun di barrio dataran rendah Gaddani, Tayum, beberapa kilometer di luar ibukota propinsi Bangued. Pada bulan mei 1974, Cellophil menandatangani sebuah kontrak di Swiss dengan sebuah konsornium bank-bank dan para penyandang dana Eropa guna membiayai hingga 80 persen biaya proyek yang besar ini dan bank pembangunan Filipina yang bertindak sebagai penjamin pinjaman ini.

Rencana operasi Cellophil di Abra adalah pertama, membangun pabrik pengolahannya. Untuk itu sekitar 60 hektar tanah diambil secara paksa di Tayum, barrio Gadanni, di dataran rendah Tinggian, pada tahun 1975. Letaknya di tepi sungai Abra, sebuah lokasi yang dimaksudkan untuk mempermudah pengapungan kayu-kayu balok dari tempat-tempat penebangan kayu di dataran tinggi ke hilir dan langsung ke pabrik.

Pada tahun 1975, Cellophil juga membuat rencana-rencana untuk membangun sebuah perkebunan pinus seluas 50000 hektare di daerah kaki bukit yang terletak antara pabrik dan konsesi-konsesi hutannya di dataran tinggi. Pengumuman-pengumuman mengenai peran kunci Cellophil dalam pembangunan Abra mula-mula diberikan dengan penerbitan Lampiran Five Year Philippine Development Plan 1978-1982 bernama Profile of Selected Development Project di tahun 1977. Dalam dokumen ini, proyek-proyek industri utama seperti Cellophil digambarkan ingin berfungsi menjadi sebuah tonggak pertumbuhan industri yang mendorong industri-industri hilir maupun jasa dan pendukung. Rencana ini membayangkan bahwa proyek Cellophil, bersama-sama dengan proyek-proyek plup dan kertas yang lain di pulau Mindanao, dapat memenuhi permintaan nasional akan pulp dan kertas setidak-tidaknya tahun 1982.

Dalam banyak hal Cellophil merupakan contoh klasik dari paradigma pembangunan yang teknokratis. Ia membayangkan proses perubahan dalam pengertian yang linear, yaitu suatu kemajuan yang mulus dari suatu keadaan keterbelakangan menuju suatu tahap industri ysng lebih maju. Perusahaan akan menjadi musim penuh berkah milik Abra yang akan digerakan oleh modal industri. Dan usaha-usaha pertanian tradisional diharapkan akan dengan rasa syukur, kalau bukan secara terhormat juga, memberikan jalan kepada industri yang baru muncul.

Kesimpulan sementara

Merupakan ciri metode dialektika bahwa tidak ada kesimpulan final. Dialektika pada hakekatnya merupakan proses yang berlangsung lama dan terus-menerus. Ada tahap-tahap yang dapat kita hentikan untuk melakukan observasi umum, melihat ke belakang guna mengambil pelajaran-pelajaran dari masa lampau, kemudian meramalkan masa depan dan merencanakannya. Kegiatan penebangan pohon oleh Cellophil dari tahun 1981 dan seterusnya semakin berkurang. Penebangan pohon secara massal dalam waktu singkat menggantikan operasi-operasi penebangan pohom yang selektif dalam rangka memenuhi kapasitas harian dari pabrik. Sehingga operasi-operasi di daerah pegunungan terpaksa berhenti sama sekali.

Jadi pada tahun 1970-an, bermula dari janji pembangunan dan modernisasi yang menggembirakan yang dalam waktu singkat akan mengangkat sebuah propinsi yang terbelakang melalui usahanya sendiri, dalam kurun waktu kurang dari satu dasawarsa telah berubah menjadi penyebab malapetaka, bukan karena aktiviitas industri seperti yang telah diramalkan oleh Cellophil dengan begitu menggembirakan, tetapi karena tindakan bersenjata revolusioner. Sebuah proyek miliayaran peso hancur dan tidak ada yang dapat dilakukan oleh pemerintah, kendati ada dukungan penuh dari kekuatan militer, untuk menyelamatkan Cellophildari efek kumulatif yang ditimbulkan oleh gerombolan-gerombolan keci yang menggangu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s