PRJ Dan Kisah Pedagang Kerak Telor

kerak telor

 

PEKAN Raya Jakarta (PRJ) merupakan acara tahunan yang terjadi dalam rangka perayaan HUT Kota Jakarta. Biasanya tempat ini ramai, dan padat dengan orang-orang yang berlalu-lalang untuk mencari sesuatu a Orang-orang lalulalang. Pekan Raya Jakarta (PRJ) di hari kedua itu terus dipenuhi pengunjung. Acara tahunan tersebut diselenggarakan PT JIExpo di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Tahun ini, PRJ digelar dari 6 Juni hingga 7 Juli mendatang.

Malam itu (08/06), Amin (56) menjajakan dagangannya, Kerak Telor. Ia hampir setiap tahun mendatangi PRJ. Namun, Amin tidak berjualan di dalam PRJ. Ia mencoba mencari rezeki di luar arena. Maklum, pria yang menjual Kerak Telor selama 20 tahun itu tidak sanggup membayar biaya sewa di dalam PRJ.

Amin mengatakan, makanan khas Betawi itu kini menjadi asing di negeri sendiri. Tidak seperti dahulu, dimana Kerak Telor menjadi simbol pesta rakyat, khususnya di Jakarta. “Ya mas bisa lihat sendiri dimana saya berjualannya. Dulu, Kerak Telor jadi makanan favorit buat para pengunjung kalau ada event PRJ seperti begini,” kata dia.

Tidak hanya Amin yang mengeluhkan mahalnya biaya sewa di dalam PRJ. Pun demikian dengan pedagang kecil lainnya. Ia merasa, makanan khas Betawi itu semakin terpinggirkan.”Mungkin zamannya dah beda, ya makanan khas kayak begini cuma sekedar nama aja ya mas. Yang lainnya juga sama seperti saya, banyak mengeluhkan tempat. Soalnya, kalau kami sewa tempat di dalam mahal mas. Makanya, kami cuma bisa berjualan diemperan kayak gini,” ujar Amin.

Tadinya, ia merasa senang saat mendengar Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi), ingin mengembalikan suasana PRJ seperti pertama kali. Yakni, PRJ mengadopsi konsep pesta rakyat yang digelar di kawasan Monumen Nasional (Monas). Sayang, keinginan sang gubernur terlambat. “Waktu dengar Pak Jokowi mau pindahin PRJ ke Monas dan dijadikan sebagai pesta rakyat lagi, kami tentunya senang. Sayangnya, agak telat melakukannya dan baru bisa dijadwalkan tahun depan. Semoga ya bisa terlaksana seperti dulu lagi,” kata Amin.

Sejarah PRJ

Dilihat dari sejarah, PRJ pertama kali digelar di kawasan Monas pada 5 Juni-20 Juli 1968. Waktu itu, Presiden Soeharto yang membuka dengan melepas burung Merpati. PRJ pertama ini juga disebut DF yang merupakan singkatan dari Djakarta Fair (ejaan lama). Lambat laun ejaan tersebut berubah menjadi Jakarta Fair yang kemudian lebih populer dengan sebutan Pekan Raya Jakarta.

Penggagasnya, Syamsudin Mangan yang lebih dikenal dengan nama Haji Mangan. Saat itu, ia menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin). Mangan mengusulkan, adanya suatu ajang pameran besar untuk meningkatkan pemasaran produksi dalam negeri. Gagasan ini disambut baik oleh Pemda DKI Jakarta yang juga ingin membuat suatu pameran besar.

Namun, lokasinya terpusat dan berlangsung dalam waktu yang lama. Hal ini sebagai upaya mewujudkan keinginan Pemerintah DKI yang ingin menyatukan berbagai pasar malam. Ketika itu, pasar malam masih menyebar di sejumlah wilayah Jakarta, seperti Pasar Malam Gambir yang tiap tahun berlangsung di kawasan Monas. Konsep tersebut merupakan inspirasi dari pameran yang diklaim sebagai “Pameran Terbesar” ini.

Rupanya, Haji Mangan terinspirasi dari berbagai event pameran internasional yang sering diikutinya sebagai seorang konglomerat dibidang tekstil. Apalagi, Pasar Malam Gambir yang dari dulunya sudah ramai dikunjungi. Ide ini ditindaklanjuti Pemerintah DKI Jakarta dengan membuat gebrakan, yaitu membentuk panitia sementara yang dipercayakan kepada Kadin.

Agar resmi, Pemda DKI Jakarta mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 1968. Isinya, antara lain menetapkan PRJ menjadi agenda tetap tahunan dan diselenggarakan menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) Jakarta setiap tanggal 22 Juni.

Selain menerbitkan Perda, juga dibentuk Yayasan Penyelenggara Pameran dan Pekan Raya Jakarta sebagai badan pengelola PRJ. Sesuai Perda tersebut tugas yayasan ini bukan hanya menyelenggarakan PRJ saja, tetapi juga sebagai penyelenggara Arena promosi dan Hiburan Jakarta (APHJ) yang dijadwalkan berlangsung sepanjang tahun.

PRJ 1968 atau DF 68 berlangsung mulus. Mega perhelatan ini mampu menyedot pengunjung tidak kurang dari 1,4 juta orang. Acara yang digelar pun unik. Kala itu, digelar pemilihan Ratu Waria. Jumlah pesertanya terbilang banyak, yakni 151 orang.

Tahun berikutnya, PRJ 1969 atau DF 69 memecahkan rekor penyelenggaran PRJ terlama karena memakan waktu penyelenggaraan 71 hari. PRJ pada umumnya berlangsung 30 – 35 hari. Bahkan, Presiden Amerika Serikat waktu itu, Richard Nixon,  sempat mampir ke DF 69. Ia berhenti disebuah stan dekat Syamsuddin Mangan Plaza. Kala itu, Nixon sempat melambai-lambaikan tangannya ke pengunjung dan karyawan DF 69.

Penyelenggaraan PRJ dari tahun ke tahun mulai mengalami perkembangan pengunjung dan pesertanya kian bertambah. Dari sekedar pasar malam, “bermutasi” menjadi ajang pameran modern yang menampilkan berbagai produk. Areal yang dipakai juga bertambah. Dari hanya tujuh hektar di Kawasan Monas kini semenjak tahun 1992 dipindah ke Kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, yang menempati area seluas 44 hektar.

Tempat Khusus

Amin berharap, pemerintah setempat menyediakan tempat khusus setiap ajang pameran supaya Kerak Telor yang memiliki nilai sejarah tetap dikenal masyarakat. “Kan gak tau nantinya yang bersejarah begini bakal ada lagi atau tidak. Yang penting dari sekarang anak-anak juga diperkenalkan dengan kebudayaan sendiri,” kata dia seraya menghisap rokok.

Mengenai penghasilannya sebagai pedagang Kerak Telor, Amin tidak ambil pusing. Sebab, ia yakin bahwa Tuhan telah mengatur rezeki seseorang. Justru, Amin merasa bangga sebagai pedagang Kerak Telor. Alasannya, dengan berdagang ia turut melestarikan makanan yang baginya mempunyai nilai budaya. “Hidup mesti disyukurin, saya tetap senang dan bangga dengan budaya Indonesia. Kebetulan saya Betawi dan menjual Kerak Telor yag membudaya. Kalau urusan rejeki sih kan ada yang ngatur mas, tapi bagaimanapun harus berusaha dulu,” ujarnya sambil mengepulkan asap rokok.

Belum sempat menghabiskan rokoknya, tiba-tiba hujan turun. Amin bergegas membuka payung yang sudah disiapkannya. Ia memikul barang dagangan, mencari tempat teduh di kawasan Kemayoran, tempat berlangsungnya Pekan Raya Jakarta.

tulisan ini pernah penulis buat di http://www.indonesiarayanews.com/news/kronik/06-09-2013-07-19/prj-dan-cerita-si-pedagang-kerak-telor


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s